Salam Super,
Saya adalah bagian dari middle management sebuah perusahaan konsultan, 6 tahun berhasil saya lalui dengan peran sebagai ‘saringan’; untuk kebijakan pimpinan agar terasa lebih lembut dan ‘tameng’; untuk kesalahan staff agar tidak banyak yang terluka. Pada tahun ke 7 saya terjebak dalam konflik staff vs pimpinan yang berawal dari masalah indikasi kebocoran keuangan yang kemudian berkembang pada beberapa permasalahan organisasi (intrik, lemahnya peraturan, keterlibatan famili pimpinan dalam masalah keuangan dan kebijakan, dll) secara terbuka, setelah adanya undangan dari pimpinan untuk berdialog. Hal ini menjadikan pimpinan marah besar dan secara otoriter mempersilahkan siapa saja yang tidak tunduk pada gaya kepemimpinannya untuk keluar (padahal dia yang minta masukan?). Ini kemudian yang menjadikan saya merasa harus memposisikan diri sebagai ‘staff’ (dengan segelintir orang yang berani bersuara), untuk “mengingatkan”; pimpinan.
Apakah saya salah?
Ada dua pilihan yang bisa saya lakukan : mengungkap kesalahan pimpinan (dengan bukti) pada kantor pusat atau diam membiarkan ini terjadi (dan kemudian keluar?).
Mohon masukan dari Bapak mengingat kedua pilihan itu sama-sama besar resikonya (buat saya dan perusahaan).
Salam Super
Bapak Achmad Huda dari Surabaya
ditanyakan pada Minggu, 07 Oktober 2007 23:20:14 +0700













