Dear Bapak Mario Teguh,
Saya bekerja di suatu perusahaan Multinational sebagai supervisor Finance, dan saya sudah 8 tahun bekerja di perusahaan ini. selama ini dalam bekerja saya merasa dan selalu ingin berusaha bekerja sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab, namun semua itu serasa tidak ada timbal baliknya.
Pak Mario demi pekerjaan saya pernah mau dibunuh salah satu kolector di perusahaan hanya karena bersikap teliti dengan prosedur yang ada.
Dilingkungan kerjapun saya baik-baik dengan semua teman , Jika ada masalah biasanya saya selalu mencari jalan terbaik dengan tidak meninggalkan sisdur yang ada. Pernah juga saya putus asa, sehingga saya kurang memberikan nilai lebih( misal kerja sesuai jam kerja yang ada ) namun saya tetep mengerjakan pekerjaan dengan tanggung jawab. Terkadang saya tidak sabar dengan keadaan ini, Saya yang merasa kerja dengan sungguh, jujur dan rasa tanggung jawab tapi hasilnya Nol, sisi lain teman saya yang kerjanya amburadul, dia malah menjadi manager ( walaupun kerjaannya sama dengan saya). sekarang ini saya hanya bertahan tanpa harapan berkarir. Sambil berfikir Jalan keluar yaitu pindah atau jika ada modal berusaha sendiri.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah.
1. Bagaimana sikap saya dengan keadaan saya ini?
2. Demi setia kawan, terkadang saya menutupi kesalahan-kesalahan orang lain. Misal, Saya tahu teman saya salah ( dalam hal melanggar prosedur yang berakibat fatal ), merugikan perusahaan, dan diapun sudah saya ingatkan, tapi tidak ada perubahan, dalam hati saya juga kasihan pada BOS saya, tapi sisi lain saya kasian keluarga teman saya jika sampai ada masalah dengan pekerjaannya , dan saya tidak mau dianggap sebagai pengkhianat. Apa yang seharusnya saya lakukan jika menghadapi hal seperti itu?
Demikian pertanyaan saya.
Salam super, hormat saya
Bapak Dian dari Surabaya
ditanyakan pada Rabu, 15 Oktober 2008 11:23:07 +0700











