Salam Super Bapak Mario.
Saya seorang mahasiswa yang sangat percaya bahwa PROSES adalah SEGALANYA bila dibandingkan dengan HASIL.
Hal tersebut juga saya TERAPKAN pada berbagai hal dalam kehidupan saya, termasuk urusan hubungan dengan lawan jenis. Saya pernah memiliki seorang kekasih yang kini ia telah memiliki kekasih lain namun kami masih cukup intens berhubungan.
Ia pun mengakui masih mencintai saya. Tetapi ia tidak kuasa memutuskan kekasihnya karena sudah terlampau dekat dengan keluarga kekasihnya.
Ia merasa tidak enak hati. Hal tersebut tidak serta merta membuat saya menyerah untuk tetap menjaga hatinya untuk saya.
Saya pikir, inilah prosesnya. Namun yang kini saya bingungkan adalah sampai kapankah kita melakukan PROSES tersebut?
Adakah yang sebaiknya dijadikan patokan kapan harus mengakhiri PERJUANGAN? Karena saya sulit mengakhiri perjuangan yang belum pasti jawabannya.
Terima Kasih banyak, Bapak Mario.
Salam super.
Ibu Anita dari Depok
ditanyakan pada Jumat, 05 September 2008 15:10:44 +0700
Ibu Anita yang baik,
Ketertarikan yang menggila pada saat-saat pertama cinta ditemukan, memang mudah membuat dua pribadi yang sangat berbeda untuk menjadi satu dan memutuskan untuk bersama-sama sepanjang hidup. Hanya saja, panjangnya hidup yang dilihat oleh mata yang sedang terkaburkan oleh cinta, bisa jadi sangat pendek.
Itu sebabnya cinta saja tidak cukup.
Cinta harus menjadi landasan dari sebuah kebersamaan, yang tidak mungkin menjadi keseluruhan strukturnya.
Cinta membutuhkan komponen-komponen pembentuk kebersamaan lain untuk membangun sebuah proses perjalanan panjang yang membahagiakan dan menyejahterakan.
Ada banyak hal yang harus dibangun dengan logika yang jernih untuk menjadikan sesuatu yang dimulai dengan emosionla ini-sebuah kebersamaan yang membahagiakan dan menyejahterakan.
Ibu Sintha, mohon Anda perhatikan ini ;
Bila Anda tidak bersedia untuk sampai kepada pinggir-pinggir kewarasan untuk mencapai cinta kasih yang Anda impikan, maka Anda tidak cukup menginginkan keindahan dari cinta kasih yang mungkin Anda capai.
Dia yang sampai berlaku salah tingkah yang kacau, karena kegugupannya dalam mengungkapkan cintanya kepada Anda, adalah yang pantas Anda cintai.
Sebaliknya, curigailah Dia yang fasih dalam bahasa-bahasa cinta, karena kefasihan itu bisa jadi-didapatnya dari latihan yang panjang dalam seni merayu
Begitu dulu ya, Ibu Anita.
Terima kasih dan Salam Super,
Mario Teguh
Extracted by
Team MTPE
Jawaban dari Pak Mario untuk pertanyaan Pantang Menyerah Atau Maksa
pada kolom What Do I Really Want
tag: cinta, kekasih, menyerah, curiga












