Salam Super Pak Mario,
Saya memiliki teman dekat, dia seperti saya seorang programmer. Sebutlah si A. A ini dari kuliah sudah menunjukkan bakatnya sebagai programmer. Saat mulai bekerja dia menguasai bahasa pemograman x, kemudian karena merasa x itu sudah tidak menyenangkan lagi dan tidak berkembang, maka si A ini mulai beralih ke y, dimana memang sedang booming dan gaji yang ditawarkan akan jauh lebih besar nantinya. Akhirnya dia rela mendapatkan gaji lebih rendah untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan lingkup y. Akhirnya dia membuktikan bahwa dia sukses dengan y ini, sampai akhirnya kembali dia merasa bosan dan menemukan z, suatu teknologi baru yang menawarkan gaji yang luar biasa indahnya bila mampu menguasainya. Akhirnya si A ini pun berani mengikuti training ribuan dollar untuk mendapatkan sertifikat z, dan kembali rela dibayar murah, bahkan 1/2 gaji saat di y. Saat ini si A selalu mengeluh gaji kecil dan perusahaan yang dimasukinya tidak bagus, bagaimana mau kaya, kebetulan dia juga sudah mau menikah tahun ini, sehingga beban semakin besar dirasa, jadi dia memutuskan mungkin harus pindah perusahaan lain namun bidang z.
Yang ingin saya bingungkan, diawal A sudah mengetahui bahwa tanpa pengalaman dibidang z, sudah pasti gaji rendah, dia sudah siap, namun saat sudah ditangan malah mengeluh, perusahaan jelek tidak membuat dia jago, padahal saat ini cukup banyak pekerjaan yang dia kerjakan cukup sulit, sehingga bagus untuk latihan. Bahkan perusahaan mungkin akan menunjuk dia untuk turun langsung ke lapangan sendirian, namun ia ketakutan tidak mampu.
Jadi apakah A ini tidak puas diri atau tidak tahu diri, sehingga dia lebih suka menyalahkan lingkungan daripada melihat kedalam diri sendiri. Saya merasa dia tidak menghargai yang sudah dicapai, jadi daripada mengeluh dan mencari perusahaan lain, saya bilang ke dia lebih baik fokus dan bekerja sebaik-baiknya, karena tidak ada kesuksesan dilalui dengan jalan tol tapi harus berkerikil. Tapi sepertinya masih mengeluh saja dia, bagaimana Pak Mario menghadapi si A ini.
Terima kasih dan Salam Super
Ibu Mita dari Jakarta
ditanyakan pada Minggu, 01 Maret 2009 00:15:24 +0700
Saya memiliki teman dekat, dia seperti saya seorang programmer. Sebutlah si A. A ini dari kuliah sudah menunjukkan bakatnya sebagai programmer. Saat mulai bekerja dia menguasai bahasa pemograman x, kemudian karena merasa x itu sudah tidak menyenangkan lagi dan tidak berkembang, maka si A ini mulai beralih ke y, dimana memang sedang booming dan gaji yang ditawarkan akan jauh lebih besar nantinya. Akhirnya dia rela mendapatkan gaji lebih rendah untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan lingkup y. Akhirnya dia membuktikan bahwa dia sukses dengan y ini, sampai akhirnya kembali dia merasa bosan dan menemukan z, suatu teknologi baru yang menawarkan gaji yang luar biasa indahnya bila mampu menguasainya. Akhirnya si A ini pun berani mengikuti training ribuan dollar untuk mendapatkan sertifikat z, dan kembali rela dibayar murah, bahkan 1/2 gaji saat di y. Saat ini si A selalu mengeluh gaji kecil dan perusahaan yang dimasukinya tidak bagus, bagaimana mau kaya, kebetulan dia juga sudah mau menikah tahun ini, sehingga beban semakin besar dirasa, jadi dia memutuskan mungkin harus pindah perusahaan lain namun bidang z.
Yang ingin saya bingungkan, diawal A sudah mengetahui bahwa tanpa pengalaman dibidang z, sudah pasti gaji rendah, dia sudah siap, namun saat sudah ditangan malah mengeluh, perusahaan jelek tidak membuat dia jago, padahal saat ini cukup banyak pekerjaan yang dia kerjakan cukup sulit, sehingga bagus untuk latihan. Bahkan perusahaan mungkin akan menunjuk dia untuk turun langsung ke lapangan sendirian, namun ia ketakutan tidak mampu.
Jadi apakah A ini tidak puas diri atau tidak tahu diri, sehingga dia lebih suka menyalahkan lingkungan daripada melihat kedalam diri sendiri. Saya merasa dia tidak menghargai yang sudah dicapai, jadi daripada mengeluh dan mencari perusahaan lain, saya bilang ke dia lebih baik fokus dan bekerja sebaik-baiknya, karena tidak ada kesuksesan dilalui dengan jalan tol tapi harus berkerikil. Tapi sepertinya masih mengeluh saja dia, bagaimana Pak Mario menghadapi si A ini.
Terima kasih dan Salam Super
Ibu Mita dari Jakarta
ditanyakan pada Minggu, 01 Maret 2009 00:15:24 +0700
Temukan Solusi atas Problem Anda di kolom What Do I Really Want
Solusi lain yang terkait dengan pertanyaan:
Bagaimana Cara Menghadapi Suami Yang Tidak Bekerja, ditanyakan oleh Ibu Dian - 10/2/2009

Bagaimana Cara Mengetahui Potensi Diri, ditanyakan oleh Saudara Pangondian - 5/1/2009

Menghilangkan Perasaan Bersalah Yang Berkepanjangan, ditanyakan oleh Saudara Andra - 4/5/2009

Bagaimana Cara Membantu Kekasih Agar Dapat Bersikap Jujur Dan Baik, ditanyakan oleh Saudari Shinta Anggraini - 27/11/2009

Bagaimana Bersikap Baik Terhadap Mertua, ditanyakan oleh Ibu Sri Wahyuni - 14/4/2009

Bagaimana Kita Bersikap Terhadap Suami Yang Memiliki Wanita Idaman Lain, ditanyakan oleh Saudari Maia - 14/4/2009

Kerja Yang Berpindah-pindah Perusahaan, ditanyakan oleh Bapak Ardy Wiranata - 31/3/2009

Bagaimana Cara Untuk Membangkitkan Semangat Kerja, ditanyakan oleh Saudari Ade - 9/2/2009

Bagaimana Penyelesaian Tugas Akhir Dengan Baik, ditanyakan oleh Saudara Agung Hariyanto - 22/4/2009

Bagaimana Menikmati Pekerjaan Di Lingkungan Yang Kurang Positif, ditanyakan oleh Ibu Ari - 14/4/2009

Masalah Rumah Tangga, ditanyakan oleh Ibu Sri Rezeki - 14/4/2009

Kemantapan Hati, ditanyakan oleh Ibu Wina - 31/3/2009

Menyesali Keputusan Di Masa Lalu, ditanyakan oleh Ibu Dandida - 28/4/2009

Berkompromi Dengan Keinginan Suami, ditanyakan oleh Ibu Nur Adinda - 22/4/2009

Bagaimana Caranya Beradaptasi Dengan Baik, ditanyakan oleh Saudara Edwin - 18/4/2009

Memulai Usaha Sampingan, ditanyakan oleh Bapak Ralim - 30/3/2009

Bagaimana Menghadapi Suami Yang Egois, ditanyakan oleh Saudari Patra Eve - 17/4/2009

Krisis Percaya Diri, ditanyakan oleh Saudari Jamilah - 12/4/2009

Suamiku Sayang, Suamiku Patung, ditanyakan oleh Ibu Trysa - 11/4/2009

Ingin Berganti Bidang Pekerjaan, ditanyakan oleh Saudari Ayu - 28/4/2009

halaman dari 41

Bagaimana Cara Mengetahui Potensi Diri, ditanyakan oleh Saudara Pangondian - 5/1/2009
Menghilangkan Perasaan Bersalah Yang Berkepanjangan, ditanyakan oleh Saudara Andra - 4/5/2009
Bagaimana Cara Membantu Kekasih Agar Dapat Bersikap Jujur Dan Baik, ditanyakan oleh Saudari Shinta Anggraini - 27/11/2009
Bagaimana Bersikap Baik Terhadap Mertua, ditanyakan oleh Ibu Sri Wahyuni - 14/4/2009
Bagaimana Kita Bersikap Terhadap Suami Yang Memiliki Wanita Idaman Lain, ditanyakan oleh Saudari Maia - 14/4/2009
Kerja Yang Berpindah-pindah Perusahaan, ditanyakan oleh Bapak Ardy Wiranata - 31/3/2009
Bagaimana Cara Untuk Membangkitkan Semangat Kerja, ditanyakan oleh Saudari Ade - 9/2/2009
Bagaimana Penyelesaian Tugas Akhir Dengan Baik, ditanyakan oleh Saudara Agung Hariyanto - 22/4/2009
Bagaimana Menikmati Pekerjaan Di Lingkungan Yang Kurang Positif, ditanyakan oleh Ibu Ari - 14/4/2009
Masalah Rumah Tangga, ditanyakan oleh Ibu Sri Rezeki - 14/4/2009
Kemantapan Hati, ditanyakan oleh Ibu Wina - 31/3/2009
Menyesali Keputusan Di Masa Lalu, ditanyakan oleh Ibu Dandida - 28/4/2009
Berkompromi Dengan Keinginan Suami, ditanyakan oleh Ibu Nur Adinda - 22/4/2009
Bagaimana Caranya Beradaptasi Dengan Baik, ditanyakan oleh Saudara Edwin - 18/4/2009
Memulai Usaha Sampingan, ditanyakan oleh Bapak Ralim - 30/3/2009
Bagaimana Menghadapi Suami Yang Egois, ditanyakan oleh Saudari Patra Eve - 17/4/2009
Krisis Percaya Diri, ditanyakan oleh Saudari Jamilah - 12/4/2009
Suamiku Sayang, Suamiku Patung, ditanyakan oleh Ibu Trysa - 11/4/2009
Ingin Berganti Bidang Pekerjaan, ditanyakan oleh Saudari Ayu - 28/4/2009










