Bapak Mario Teguh yang saya hormati,
Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Keluarga saya telah broken home sejak lahir. Sejak kelas 5 SD saya tinggal dengan nenek karena ibu beserta adik tinggal di Sumatera, ini berlangsung selama 7 tahun.
Hal ini membuat saya terbiasa hidup sendiri.
Sudah setahun yang lalu Ibu kembali ke Jakarta. Jujur, ini membuat saya tidak tahan karena Ibu terlalu banyak tuntutan.
Diusia saya yang ke-20, saya memang telah bisa membiayai hidup saya dan sedikit membantu keluarga tetapi Ibu selalu menuntut lebih dan lebih. Dia memandang saya layaknya orang yang memang telah bekerja dan memiliki penghasilan yang tinggi.
Saya terkadang tidak tahan karena tenaga telah terkuras untuk kuliah di pagi hari, menjadi wartawan kampus dan mengajar tetapi Ibu masih saja kurang mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan dan yang telah saya lakukan.
Bagaimana saya harus bersikap Pak?
Terima kasih.
Saudari Ri Azzura dari Jakarta
ditanyakan pada Senin, 03 September 2007 13:25:36 +0700








